Jilbab dan Akhlak, Seiring namun Beda

Bismillahirrahmanirrahim…

Beberapa orang berceloteh “Orang itu ya, berjilbab tapi kok kelakuan buruk begitu? *Naudzubillahi min dzalik” Teman yang lainnya menanggapi, “buruk gimana? Nggak tuh, kalian aja yang kepo”… Hehehe…
Mungkin, sekawanan wanita modis ini, telah melihat saudarinya berbuat hal yang tidak sesuai dengan sudut pandang mereka, maka terlontarlah komentar yang seperti itu. Ya, inilah hidup, kitalah yang berbuat, baik dan buruk, orang lainlah yang akan mengomentari 🙂

Saudariku, ini terkhusus untukku dan untukmu, para pendamba Syurga, Inshaa Allah, Syurga adalah cita-cita tertinggi setiap MakhlukNya…

Jilbab adalah KEWAJIBAN bagi setiap muslimah yang telah baligh, tidak peduli baik buruknya perangai, pendiam cerewet, kaya miskin, wanita karir, ibu rumah tangga, anak gadis, istri, pejabat, dosen, guru, pemimpin, mahasiswa,anak sekolah, jika kita ber-Islam, maka siap tidak siap, suka tidak suka perkara jilbab berlaku wajib atas diri-diri kita… Oh, iya, kadang kita punya alasan begini “Tunggu, saya jilbabi dulu hati saya, baru tubuh saya, saya belum siap”… Hmmm… Ingat saudariku yang manis, Setan itu Pintar dan licik lho, termasuk menggoda kita untuk “TIdak pernah Siap dalam Berjilbab”, maka jika kita telah tau bahwa jilbab adalah Kewajiban, bersegeralah untuk mengenakannya, dengan demikian niscaya Allah telah membukakan kita satu pintu kebaikan karena telah menaati perintahNya. Betul?

Jilbab adalah identitas muslimah, karena jilbab, kita bisa dikenali sebagai “Agent of Muslim”, tanpa ada tanda tanya lagi. Jilbab melindungi dari berbagai hal “Negatif” di luar sana. Inshaa Allah…. Tentu saja dengan jilbab syar’i my dear sisters, yang menutupi seluruh tubuh, tebal, tidak ketat dan tidak bertabarruj (berhias) berlebih-lebihan.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala…

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Ahzab : 59).

Sudah jelas bukan, bagaimana Allah mengabadikan perintah berjilbab dalam kitabNya nan suci. Tinggal, kita gerakkan diri kita untuk Menaati perintahnya dengan mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh, memakai pakaian yang tebal dan tidak transparan serta tidak bertabarruj (berhias) berlebih-lebihan, dengan ini, Inshaa Allah kita akan senantiasa menuntun langkah kita untuk menjadi perhiasan terbaik dunia, bukankah perhiasan terbaik dunia adalah wanita shalihah? Siapa yang tidak mau dengan predikat itu?

Lalu bagaimana dengan akhlak?

Akhlak adalah kepribadian setiap manusia yang tentu berbeda-beda dan hal ini bukanlah menjadi sebuah hukum, tapi kembali kepada para pelakonnya, namun demikian, kita diperintahkan untuk senantiasa memperbaiki dan menghiasi diri dengan akhlak yang Indah. Btw, girls, ciri-ciri muslimah yang baik salah satunya adalah Berakhlak baik, baik bukan semata-mata karena ingin terpuji di hadapan manusia, tapi juga saat dalam kesendirian, saat setiap apa yang kita lakukan, hanya diri kita dan Allah saja yang tahu.

Kembali ke percakapan awal saudari-saudari kita tadi….

Jika ada wanita berjilbab yang berbuat keliru di depan kita, please jangan judge jilbabnya, tapi itu kembali pada akhlak pribadinya. Inshaa Allah, biasanya dengan berjilbab otomatis akan memperbaiki akhlak seorang muslimah, sebab jilbab dan akhlak itu seiring saudariku, meski tetap berbeda.. nasihat untuk saya juga, ketika memandang orang lain, gunakanlah “Mata yang jernih”, boleh jadi ada 1 kesalahan yang terlihat pada dirinya, namun ada sejuta kebaikan lain yang membawanya ke Surga.

Mari menaati Allah dengan berjilbab, mari memperbaiki diri dengan Akhlak yang baik 🙂

Advertisements

Duka Gaza, Duka Palestina

Bismillahirrahmanirrahim…
Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk menjalani ibadah puasa yang penuh berkah ini, semoga kita menjadi hamba-hambaNya yang senantiasa bertakwa kepada Allah. Aamiin, aamiin yaa rabbal’alamin.

ramadhan is coming

Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kebahagiaan, bulan dimana haus dan lapar bukanlah sebuah rintangan yang berarti untuk kita lalui,sebab, tantangan yang paling berat adalah melawan hawa nafsu. Alhamdulillah karena kita tinggal di negara yang berpenduduk muslim terbesar di seluruh dunia, tidak ada halangan ketika melaksanakan ibadah, dimana-dimana bisa, kapan pun boleh, tersedia begitu banyak sarana dan prasarana yang menunjang segala aktivitas di bulan puasa juga berbagai macam menu makanan yang lezat, tinggal pilih sesuka hati.. sekali lagi alhamdulillah.

gaza

Saudaraku, mari kita tengok di belahan bumi yang lain, sisi lain dari sebuah negeri elok nan indah bernama bernama Palestina. Tanggal 8 Juli 2014 yang lalu tentara zionis kembali mengusik ketenangan warga Gaza palestina dengan meluncurkan berbagai serangan yang menewaskan lebih dari 100 korban jiwa, kebanyakan dari mereka adalah warga sipil, anak-anak dan para ibu, inshaa Allah mereka wafat dalam keadaan syahid. Serangan ini juga menyebabkan 1000 lebih warga gaza mengalami luka-luka juga membuat rumah-rumah warga hancur, rata dengan tanah. Suasana ini begitu kontras dengan apa yang kita alami di Indonesia, saudara-saudara kita disana berjuang membela agama, wilayah serta kehormatan mereka sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Bulan ramadhan, selalu hadir suka cita yang mendalam, namun ironisnya, mereka merayakannya dengan penuh duka karena banyak yang harus kehilangan orang tua serta sanak saudara juga tempat tinggal yang nyaman tak lagi mereka nikmati. Semoga Allah senantiasa memberi Kasih Sayang dan RahmatNya kepada saudara-saudara kita disana.

pray for gaza 

 

 

Ramadhan Yaa Karim, Refleksi Menuju Takwa

Bismillah…
Ramadhan tak terasa sudah di depan mata, bulan mulia ini senantiasa dirindukan oleh orang-orang yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa yang penuh berkah, semoga kita termasuk ke dalam golongan perindu ramadhan, inshaa ALLAH… 🙂
Akhir pekan lalu tepatnya di hari sabtu dan ahad 16-17 sya’ban tahun 1435 Hijriah atau tanggal 14-15 2014, saya berkesempatan menghadiri acara daurah Ramadhan, acara yang begitu sarat akan ilmu khususnya untuk para muslimah dalam mempersiapkan diri menjemput ramadhan serta menjalaninya dengan ibadah-ibadah yang akan mengantarkan kita kepada ketakwaan. Ada beberapa penting yang di ulas seputar ramadhan, jujur yah masih sangat banyak ternyata hal-hal seputar ramadhan yang belum saya ketahui, alhamdulillah dengan ikut kajian ilmiah ini semakin menambah pengetahuan saya yang tentunya masih perlu terus belajar pada tempat dan waktu yang lain. Berikut akan saya sajikan hal-hal yang sempat saya catat di daurah tersebut, semoga bermanfaat.

Ramadhan pertama kali dilaksanakan pada tahun 2 Hijriah dimana pada bulan ini orang-orang beriman melaksanakan puasa, nah, apakah yang dimaksud dengan puasa?
Secara bahasa puasa adalah Menahan, sedangkan secara istilah Puasa adalah menahan diri untuk makan dan minum dan dari hal-hal yang merusak serta membatalkan puasa pada siang hari dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa hukumnya Wajib a’in dan merupakan salah satu rukun islam serta ditujukan untuk orang-orang yang beriman, puasa telah diperintahkan kepada orang-orang sebelumnya untuk mencapai derajat ketakwaan, sebagaimana firman ALLAH dalam Qur’an surah Al-Baqarah:183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

A. Keutamaan bulan Ramadhan:

  1. Bulan ramadhan adalah bulan untuk beramal shaleh.
  2. Bulan ramadhan adalah bulan sedekah karena pahalanya yang berlipat ganda. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kondisi beliau paling dermawan adalah di bulan Ramadhan di saat bertemu Jibril ‘Alaihis salam, di mana Jibril ‘alaihis salam sering bertemu beliau pada setiap malam dari bulan Ramadhan, lalu Jibril mengajarkannya al-Qur`an, dan sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling (cepat) dermawan dengan kebaikan daripada angin yang berhembus.” (Shahih al-Bukhari Ma’a al-Fath 1/30 nomor 6. Shahih Muslim 4/1803.).
  3. Bulan ramadhan adalah bulan Al-qur’an, alqur’an diturunkan pada bulan ramadhan
  4. Bulan ramadhan adalah bulan kemenangan, sesungguhnya banyak peperangan yang dimenangkan di bulan ramadhan, salah satunya perang badar. Ketahuilah saudaraku bahwa perang yang plaing dahsyat sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu, maka siapa yang berhasil memeranginya dialah seorang pemenang.
  5. Bulan ramadhan adalah bulan pertaubatan.
  6. Bulan ramadhan adalah bulan kesabaran.
  7. Bulan dikabulkannya do’a-do’a.
    Ada tiga golongan orang-orang yang tidak tertolak do’anya (1) pemimpin yang adil (2) orang yang sedang berpuasa (3) orang yang terdzolimi (HR. At-Tirmidzi dan At. Thabrani).
  8. Bulan ramadhan di dalamnya terdapat Lailatul Qadr, yang ibadah di dalamnya lebih utama dari 1000 bulan, mashaa ALLAH.

B. Keutamaan orang yang berpuasa

  1. Puasa adalah salah satu sebab terwujudnya takwa (QS. Al-Baqarah:183).
  2. Puasa adalah gejolak syahwat.
  3. Puasa adalah pemisah antara hamba dengan neraka
    “Barangsiapa berpuasa 1 hari di jalan ALLAH, maka ALLAH akan memisahkan dirinya dengan neraka sejauh jarak antara langit dan bumi (HR. At-Tirmidzi).
  4. Pahala puasa tidak terbatas, mendapatkan dua kebahagiaan dan bau mulut orang berpuasa lebih wangi dari minyak kesturi.
    Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda:
    “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’(HR. Muslim).
  5. Puasa dan Al-Qur’an akan menjadi syafa’at di akhirat kelak.
  6. Puasa sebagai kaffarat (penebus dosa).
  7. Pintu surga Ar-rayyan bagi orang berpuasa.
  8. Orang yang berpuasa tidak tertolak do’anya.

C. Adab-adab puasa

  1. Makan Sahur
    “Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya dalam sahur itu keberkahan” (Muttafaqun Alaihi).
  2. Menahan diri dari kata-kata yang tidak bermanfaat.
  3. Sifat dermawan dan mengkhatamkan Al-qur’an.
  4. Menyegerakan berbuka puasa
    Umat manusia akan tetap berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa (HR. Bukhari).
  5. Berdo’a ketika berbuka puasa, sebagaimana diisabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
    “Telah hilang rasa haus dan telah basah urat-urat, serta ditetapkan pahala, insya ALLAH”.

D. Manfaat Puasa dalam Tinjauan Kesehatan dan Psikologi

  1. Baik bagi kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah
    Ketika berpuasa tubuh kita mengalami peningkatan HDL dan penurunan LDL yang ternyata hal tersebut mampu menyehatkan jantung dan pembuluh darah.
  2. Psikologi yang Tenang Cegah Penyakit Kronis
    Saat berpuasa kita tidak hanya menahan diri dari lapar dan haus tapi juga menahan amarah, hal tersebut dapat menurunkan adrenalin sehingga memberi efek yang baik bagi tubuh dalam mengurangi penyakit pembuluh darah, jantung, dan otak.
  3. Pola Pikir Lebih Tajam dan Kreatif
    Puasa membuat pikiran menjadi lebih tenang.
  4. Performa Seksual Meningkat Pesat
  5. Mengurangi Kegemukan
  6. Pencegah dan Penyakit Mental
  7. Kekebalan Tubuh yang Meningkat
    Seseorang yang berpuasa akan memberikan efek pada tubuhnya berupa peningkatan limfosit sampai 10 kali lipat dalam tubuhnya, hal ini memberikan pengaruh terhadap sistem imunitas tubuh, sehingga menghindarkan diri dari berbagai virus dari lingkungan luar.
  8. Sehat bagi Ginjal
  9. Pencegah Diabetes dan kelebihan nutrisi lainnya
  10. Penawar sakit sendi dan encok
  11. Puasa dapat memperlambat proses penuaan.

E. Manfaat Puasa dalam Tinjauan Sosial

  1. Menumbuhkan rasa persamaan di antara sesama muslim
  2. Menghindari perangkap-perangkap setan yang tertuju kepada manusia
    Puasa menjadi solusi terbaik dalam mengurangi nafsu biologis sehingga pikiran, hati akan terjaga serta tindakan terarah dan mata pun terjaga.
  3. Puasa bisa melahirkan ketakwaan kepada ALLAH yang mana ketakwaan tersebut dapat memperkuat hubungan antar individu masyarakat.

F. Kesalahan-kesalahan dalam Melakukan Puasa

  1. Tidak mengetahui hukum-hukum seputar ramadhan
  2. Menyambut ramadhan dengan permainan dan senda gurau
  3. Jika ramadhan bertaubat, jika ramadhan telah berlalu maka kembali lagi kepada kemaksiatan
  4. Sedih jika ramadhan datang dan bergembira ketika ramadhan telah pergi
  5. Senda gurau dan bermain-main
  6. Memperbanyak makanan-makanan lahiriah
  7. Meninggalkan shalat tarawih
  8. Shaum tapi tidak shalat

G. Fenomena Ritual dan Tradisi di Bulan Ramadhan

Masha ALLAH inilah yang terkadang belum kita ketahui, bagaimana tradisi yang  dilakukan oleh banyak masyarakat ketika menyambut dan menjalani bulan ramadhan, terkadang hal-hal yang dilakukan bukanlah tuntunan yang disyariatkan sehingga menimbulkan kesia-siaan bahkan dosa, semoga kita terlindung dari perbuatan-perbuatan tersebut. Adapun tradisi-tradisi yang seharusnya kita tinggalkan antara lain sebagai berikut:

  1. Rihlah (bepergian) sebelum bulan ramadhan, maksudnya adalah melakukan rekreasi atau piknik khusus untuk menyambut datangnya bulan ramadhan.
  2. Ziarah kubur sebelum ramadhan yang di tradisikan.
  3. Ngabuburit tanpa tujuan yang syar’i
  4. Tidur sepanjang hari
  5. Makan dan minum berlebihan.

H. Pembatal dan Perusak Puasa

Nah, disini kita mesti membedakan antara pembatal dengan perusak puasa, pembatal puasa adalah sesuatu yang dilakukan sehingga membuat puasa kita batal dan wajib mengqadha (mengganti)nya sedangkan perusak puasa adalah hal-hal yang dapat mengurangi dan merusak pahala puasa tapi tidak sampai membuat puasa tersebut batal serta tidak ada kewajiban untuk menggantinya.

  1. Pembatal Puasa
    Pembatal puasa antara lain:
    1) Makan dan Minum
    2) Jima’ atau melakukan hubungan suami istri pada siang hari, adapun orang yang melakukan jima’ maka            baginya dosa, karena tidak menghargai bulan ramadhan dan jika telah berhubungan maka tetap melanjutkan    puasanya tetapi puasanya tetap dianggap batal serta wajib membayar kaffarat berupa:
    a. Membebaskan budak
    b. Puasa dua bulan berturut-turut
    c. Memberi makan fakir miskin
    3) Muntah yang disengaja
    4) Haidh dan Nifas
    5) Orang yang berniat berbuka padahal ia sedang berpuasa
    6) Onani (bagi laki-laki) dan Masturbasi (bagi perempuan)
    7) Seseuatu yang bermakna makan dan minum, misalnya infus.
    8) Murtad dari agama islam, meskipun setelah itu ia memeluk islam
    9) Keluarnya darah karena berbekam
    Pembatal-pembatal ini dikatakan sah jika memenuhi 3 syarat yaitu,
    – Dia memiliki ilmu
    – Melakukannya dalam keadaan sadar
    – Niat, berazzam untuk membatalkan puasanya.
  2. Perusak Puasa
    Adapun amalan-amalan perusak puasa yaitu tidak menjaga lidah dengan Ghibah (menggunjing orang lain) dan ghanimah (mengadu domba).
    Amalan-amalan yang untuk menjaga puasa kita adalah dengan menundukkan pandangan, menjaga lisan, menghindari keharaman meski telah berbuka dan tidak makan berlebihan ketika berbuka.

I. Udzur yang Membolehkan Tidak Berpuasa

  1. Orang sakit, dimana ketika ia berpuasa maka bertambah parah penyakitnya, wajib baginya mengqadha di lain waktu.
  2. Orang yang bersafar atau bepergian dengan jarak 83 KM atau lebih. wajib qadha, dalil di QS. Al-Baqarah:184.
  3. Orang tua yang tidak mampu lagi berpuasa, di hari lain wajib membayar fidyah atau memberi makan 1 orang miskin untuk 1 hari yang ia tinggalkan.
  4. Orang yang hamil dan menyusui, wajib qadha,
  5. Orang yang sangat lapar dan haus, dikhawatirkan jika melanjutkan puasa akan mencelakakan dirinya.
  6. Orang yang makan dan minum karena lupa.

J. Muslimah Cerdas dalam Menyambut dan Menjalankan Bulan Ramadhan

Muslimah, ya, muslimah merupakan sosok insan istimewa yang dari lahir hingga baligh merupakan memiliki pembahasan yang begitu eksklusif, muslimah juga merupakan bahan pergolakan musuh-musuh dalam memerangi islam serta menjadi posisi sentral dalam kehidupan keluarga dan masyarakat maka ketika menyambut dan menjalani ramadhan muslimah memiliki peran yang khusus. Begitu banyak pembahasan tentang hal ini, namun saya akan menuliskan poin-poin utamanya saja.
Bagi muslimah, sebaiknya melakukan musyawarah dengan anggota keluarga termasuk dalam membuat kesepakatan waktu selama bulan ramadhan, misalnya waktu membaca alqur’an, menghafal al-qur’an, serta belajar menyediakan  dan memanage menu yang bervariasi saat berbuka puasa dan sahur yang hemat secara finansial dan waktu agar tidak serta merta waktu dan tenaga dihabiskan di pasar atau pun di dapur sehingga meninggalkan ibadah-ibadah yang lainnya , bagi yang telah berkeluarga termasuk membangunkan anak untuk sahur.

Target Muslimah di bulan ramadhan dapat yaitu:

  1. Muslimah dengan ilmu, yaitu menuntut ilmu demi peningkatan kualitas keimanan serta mentadabburi al-qur’an.
  2. Muslimah dengan Al-qur’an, merencanakan dan melaksanakan target mengkhatam serta menghafal Al-qur’an.
  3. Muslimah menambah amalan sedekahnya.
    “Hai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar’ (HR. Muslim).
    “Hai kaum wanita, bersedekahlah meskipun dengan perhiasanmu” (HR. Bukhari).
  4. Memberi buka puasa.
  5. Muslimah menyambut idul fitri, dengan menyediakan menu hari raya, pakaian di hari raya bisa dibeli sebelum ramadhan agar ketika ramadhan tiba, kita tidak sibuk lagi mencari hal-hal demikian tetapi fokus terhadap amalan-amalan di bulan ramadhan.

K. Fiqh Muslimah di Bulan Ramadhan

  1. Membaca Al-qur’an
  2. Shalat Tarawih
    Shalat Tarawih merupakan shalat yang dilakukan pada malam hari di bulan ramadhan yang waktunya membentang dari setelah isya hingga menjelang fajar, hukumnya sunnah namun tidak pantas ditinggalkan
    “Barangsiapa yang melakukan shalat di malam hari selama bulan ramadahan dengan penuh keimanan dan mengharap ridho dari ALLAH, maka diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaq Alaihi).
    Shalat tarawih lebih afdhal dilakukan secara berjamaah, namun jika seorang muslimah hendak melakukan shalat jamaah tarwih di masjid maka syarat-syarat yang harus diperhatikan antara lain:
    1) Tujuannya ke masjid hanya untuk melakukan ibadah.
    2) Keluarnya tidak menimbulkan fitnah.
    3) Berhijab, tidak tabarruj (berhias berlebihan) dan tidak memakai wangi-wangian.
    4) Tidak meninggalkan kewajiban di rumah yang lebih penting.
    5) Mendapat izin suami.
    6) Memperhatikan adab-adab di masjid.
  3. Amalan yang boleh dilakukan Muslimah saat Haidh di bulan Ramadhan
    1) Boleh makan dan minum di siang hari, tapi sebaiknya tidak di depan anak-anak dan orang yang berpuasa.
    2) Memperbanyak dzikir.
    3) Bersedekah.
    4) Menghadiri majelis ilmu atau mendengarkan dan menonton ceramah, murottal alqur’an.
    5) Mempelajari surah tertentu, membaca tafsir atau mempelajari faedah yang  terdapat dalam surah tersebut.
    6) Menyiapkan hidangan buka puasa bagi yang berpuasa, keluarga, tetangga atau teman.
  4. fiqh qadha puasa dan waktunya
    1) Boleh mengqadha secara berurut atau terpisah sejumlah hari yang ia tinggalkan.
    2) Boleh mengakhirkan qadha puasa tanpa udzur di bulan sya’ban, tapi sebaiknya disegerakan.
    3) Tidak boleh mengkakhirkan qadha ke ramadhan berikutnya, siapa yang mengkhirkan maka wajib untuk mengqadha dan membayar kaffarat yaitu membari makan 1 orang miskin untuk satu hari.
    4) Kaffarat tidak berlipat meskipun qadha tertunda beberapa ramadhan. Wajib untuk bertaubat dan segera menyelesaikan kaffaratnya.
    5) Kaffarta takarannya 1 mud beras atau 750 gram untuk 1 hari.

L. Muslimah di 10 akhir Ramadhan

10 hari di akhir ramadhan memiliki beberapa keutamaan antara lain:

  1. Waktu turunnya Lailatul Qadr
    Keutamaan Lailatul Qadr yaitu:
    1) Waktu diturunkannya Al-Qur’an, QS. Ad-Dhukan:3
    2) Malam tersebut lebih baik dari 1000 bulan, QS. Al-Qadr: 3
    3) Seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadr akan diampuni dosanya di masa lampau
    “Barangsiapa yang beribadah pada Lailatul Qadr karena iman dan mengharapkan pahala maka niscaya
    akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau” (HR. Bukhari dan Muslim).
    4) Para Malaikat dan Jibril turun pada malam itu.
    5) Kesejahteraan pada malam tersebut berlangsung hingga fajar, QS. Al-Qadr: 4.
    6) Waktu turunnya adalah misteri dan turun di malam-malam yang ganjil.
    7) Tidak diketahui kedatangannya kecuali setelah Laialtul qadr berlalu, tanda-tandanya antara lain
    matahari tidak menyengat padahal telah meninggi, malam yang ramah, tidak panas dan tidak dingin.
    pagi harinya matahari terbit kemerah-merahan (tidak terik).
  2. Rasulullah mengkhuskan memberpbanyak amalan di akhir 10 ramadhan
    “Rasulullah bersungguh-sungguh beramal yang tidak ada samanya di waktu yang lain” (HR. Muslim).
    “Bila masuk 10 hari di akhir ramadhan rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya dan tidak menggauli istri-istrinya (HR. Muslim).
  3. Rasulullah mengkhususkan i’tikaf pada waktu tersebut (berdiam diri di masjid dalam rangka ibadah)
  4. Mandi pada malam 10 akhir ramadhan diantara maghrib dan isya.
  5. Memakai pakaian yang terbaik dan parfum.
  6. Memperbanyak do’a.
  7. Zakat Fitri, zakat yang dikeluarkan dengan sebab berbuka (setelah sebulan berpuasa ramadhan) dimana
    mengandung hikmah sebagai bentuk pembersihan, kasih sayang kepada fakir miskin serta menunjukkan kesyukuran atas nikmat ALLAH azza wa jalla.
    Hukumnya wajib bagi setiap Muslim. Takarannya 1 sho’ = 4 mud = 2,175 kg/ 3 kg  (beras)

M. The Winner of Ramadhan

Kita senantiasa berharap ketika kita berpindah dari satu ramadhan ke ramadhan berikutnya selalu ada nilai tambah. Hakikat kemenangan Ramadhan bukan hanya pada 1 syawal tapi juga tetap istiqomah pada 11 bulan berikutnya, QS. Al-Maidah:48.
Sesungguhnya puasa pada bulan ramadhan dapat mempersempit jalan-jalan setan karena faktor-faktor eksternal membuat ruang geraknya semakin lebar dan kita sebagai manusia, kita sendirilah yang mampu merekayasa nafsu yang ada di dalam diri kita.
Pemenang-pemenang ramadhan adalah:

  1. Orang-orang yang berpuasa itu sendiri karena iman dan mengharap ridho ALLAH.
  2. Orang yang bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan.

Kemenangan yang hakiki adalah ketika kita diberikan keistiqomahan, sesungguhnya inilah kunci dari kemenangan itu sendiri, TAKWA dan ISTIQOMAH.
ramadhan is coming soon

 

 

 

 

Lindungi Diri Dengan Jilbab Syar’i

Islam mewajibkan seorang wanita untuk dijaga dan dipelihara dengan sesuatu yang tidak sama dengan kaum laki-laki. Wanita dikhususkan dengan perintah untuk berhijab (menutup diri dari laki-laki yang bukan mahram). Baik dengan mengenakan jilbab, maupun dengan betah tinggal di rumah dan tidak keluar rumah kecuali jika ada keperluan, berbeda dengan batasan hijab yang diwajibkan bagi laki-laki.

Allah ta‘ala telah menciptakan wanita tidak sama dengan laki-laki. Baik dalam postur tubuh, susunan anggota badan, maupun kondisi kejiwaannya. Dengan hikmah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, kedua jenis ini telah memunculkan perbedaan dalam sebagian hukum-hukum syar‘i, tugas, serta kewajiban yang sesuai dengan penciptaan dan kodrat masing-masing sehingga terwujudlah kemaslahatan hamba, kemakmuran alam, dan keteraturan hidup.

Wanita telah digariskan menjadi lentera rumah tangga sekaligus pendidik generasi mendatang. Oleh karena itu, ia harus menjaga kesuciannya, memiliki rasa malu yang tinggi, mulia, dan bertaqwa. Telah dimaklumi bahwa seorang wanita yang berhijab sesuai dengan apa yang dimaksudkan Allah dan Rasul-Nya, maka tidak akan diganggu orang yang dalam hatinya terdapat keinginan untuk berbuat tidak senonoh, serta akan terhindar dari mata-mata khianat.

Pengertian Jilbab
Ada beberapa pendapat di kalangan ulama tentang definisi jilbab. Ibnu Rajab mengatakan jilbab itu mala-ah (kain yang menutupi seluruh tubuh dari kepala sampai kaki yang dipakai melapisi baju bagian dalamnya, seperti jas hujan). Pendapat ini juga dipilih oleh al-Baghawi dalam tafsirnya dan al-Albani. Ada juga yang berpendapat jilbab itu sama dengan khimar alias kerudung sebagaimana disebutkan oleh an-Nawawi, Ibnu Hajar, dll. As-Sindi mengatakan, “Jilbab adalah kain yang digunakan oleh seorang perempuan untuk menutupi kepala, dada, dan punggung ketika keluar rumah.”

Syarat Jilbab
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh besar modern dalam bidang hadits, telah melakukan penelitian terhadap ayat-ayat al-Qur‘an dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta atsar-atsar para ulama terdahulu mengenai masalah yang penting ini. Beliau mengatakan bahwa seorang wanita hanya diperbolehkan keluar dari rumahnya (begitu pun apabila di dalam rumahnya terdapat laki-laki yang bukan mahramnya) dengan mengenakan jilbab, yaitu berbagai jenis pakaian yang telah memenuhi syarat-syarat berikut ini:

Syarat pertama: menutupi seluruh tubuh kecuali bagian yang dikecualikan

Syarat ini tercantum dalam firman Allah ta‘ala, surat An-Nuur, ayat 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung (khimar) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’” (Qs An Nuur: 31)

Begitu juga surat Al-Ahzaab, ayat 59,

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi‘in memang berselisih pendapat mengenai tafsir “… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya …” (Qs An-Nuur: 31). Ada yang berpendapat bahwa perhiasan yang boleh nampak adalah pakaian bagian luar yang dikenakan wanita karena tidak mungkin disembunyikan, sebagaimana perkataan al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Sedangkan Ibnu Jarir rahimahullah lebih memilih wajah dan kedua telapak tangan sebagai perhiasan yang boleh ditampakkan, karena keduanya bukan termasuk aurat. Al-Albani juga berpendapat bolehnya seorang wanita menampakkan wajah dan kedua telapak tangan, namun beliau mengingatkan bahwa pendapat tersebut dibangun dengan syarat pada bagian wajah dan telapak tangan tidak terdapat perhiasan. Apabila terdapat perhiasan pada dua bagian tubuh tersebut seperti cincin, make up, dan lain-lain maka keduanya harus ditutupi, berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala, “… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya …” (Qs An-Nuur: 31).

Syarat kedua: bukan untuk berhias

Tujuan utama perintah memakai jilbab adalah untuk menutupi perhiasannya, sebagaimana dalil di atas. Oleh karena itu, jilbab yang dikenakan seorang wanita tidak boleh diperindah dengan perhiasan sehingga menarik perhatian dan pandangan kaum laki-laki. Fenomena memperindah pakaian yang dikenakan seorang muslimah ketika keluar rumah banyak terjadi di tengah masyarakat, contohnya adalah bordiran warna-warni, payet, pita sulam emas serta perak yang menyilaukan mata, dan lain sebagainya. Adapun warna pakaian selain putih dan hitam bukanlah termasuk kategori perhiasan, berdasarkan riwayat-riwayat yang menceritakan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengenakan jubah berwarna merah.

Syarat ketiga dan keempat: bahannya tebal, tidak transparan, dan tidak menampakkan lekuk tubuh

Agar dapat tercapai tujuan tertutupnya aurat, maka jilbab yang dikenakan harus tebal dan tidak transparan yang dapat memperlihatkan warna kulit dan rambut. ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha berkata, “Khimar adalah sesuatu yang dapat menyembunyikan kulit dan rambut.”

Selain tebal, pakaian tersebut juga tidak menggambarkan lekuk tubuh. Terkadang ada bahan pakaian yang tebal namun sangat halus sehingga melekat pada tubuh, atau bisa jadi karena ukurannya yang ketat sehingga nampak lekuk tubuh si pemakai. Usamah bin Zaid berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, ‘Mengapa engkau tidak mengenakan baju Qubthiyah yang telah kuberikan?’ ‘Aku memberikannya kepada istriku,’ jawabkuMaka beliau berpesan, ‘Perintahkanlah istrimu agar memakai pakaian bagian dalam sebelum mengenakan baju Qubthiyah itu. Aku khawatir baju itu akan menggambarkan lekuk tubuhnya.’” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi, hasan).

Syarat kelima: tidak ditaburi wewangian atau parfum

Kaum wanita dilarang menggunakan wewangian ketika keluar rumah berdasarkan banyak hadits. Salah satunya adalah hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Seorang wanita melintas di hadapan Abu Hurairah dan aroma wewangian yang dikenakan wanita tersebut tercium olehnya. Abu Hurairah pun bertanya, ‘Hai hamba wanita milik Al-Jabbar (Allah ta’ala)! Apakah kamu hendak ke masjid?’ ‘Benar,’ jawabnya. Abu Hurairah lantas bertanya lagi, ‘Apakah karena itu kamu memakai parfum?’ wanita tersebut menjawab, ‘Benar.’ Maka Abu Hurairah berkata, ‘Pulang dan mandilah kamu! Sungguh, aku pernah mendengar Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah tidak akan menerima shalat wanita yang keluar menuju masjid sementara bau wangi tercium darinya, hingga ia kembali ke rumahnya dan mandi.’” (HR. Al-Baihaqi, shahih)

Hadits ini menunjukkan haramnya seorang wanita keluar menuju masjid dengan memakai wewangian. Lalu bagaimana hukumnya  jika wanita tersebut hendak menuju tempat perbelanjaan, perkantoran atau jalanan umum? Tentu tidak diragukan lagi keharaman dan dosanya lebih besar walaupun seandainya suaminya mengizinkan.

Syarat keenam: tidak menyerupai pakaian laki-laki

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pria yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian pria.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim, dan Ahmad, shahih)

Adz-Dzahabi rahimahullah menggolongkan perbuatan menyerupai lawan jenis (tasyabbuh) termasuk dosa besar, berdasarkan kandungan hadits-hadits shahih dan ancaman keras yang disebutkan di dalamnya. Tasyabbuh yang dilarang dalam Islam berdasarkan dalil-dalil meliputi masalah pakaian, sifat-sifat tertentu, tingkah laku, dan yang semisalnya, bukan dalam hal perkara-perkara kebaikan. Alasan ditimpakannya laknat bagi pelaku tasyabbuh menurut Syaikh Abu Muhammad bin Abu Jumrah adalah karena orang tersebut telah keluar dari tabi’at asli yang Allah ta’ala karuniakan bagi dirinya.

Syarat ketujuh: tidak menyerupai pakaian wanita kafir

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sungguh, barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, hasan)

Meniru-niru penampilan lahiriah kaum musyrikin akan menghantarkan pada kesamaan akhlak dan perbuatan. Terdapat kaitan erat antara penampilan luar seseorang dengan keimanan yang ada dalam batin, keduanya akan saling mempengaruhi.

Syarat kedelapan: bukan merupakan pakaian yang mengundang sensasi di masyarakat (pakaian syuhrah)

Jilbab yang dipakai wanita muslimah tidak boleh mengundang sensasi atau nyeleneh, sehingga menjadi pusat perhatian orang, baik pakaian tersebut pakaian yang sangat mewah maupun murahan. Adapun penampilan yang sesuai dengan syari‘at namun berbeda dengan masyarakat pada umunya maka bukan termasuk dalam pakaiansyuhrah.

“Barangsiapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, maka Allah akan memakaikan pakaian (kehinaan) yang serupa baginya pada hari kiamat, lalu Allah akan menyulutkan api pada pakaian itu.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, hasan)

Kedelapan syarat di atas harus terpenuhi seluruhnya untuk mencapai makna jilbab yang dimaksudkan dalam Islam. Hendaklah kaum mukminah bersegera melaksanakan apa yang Allah ta’ala perintahkan, salah satunya yaitu untuk mengenakan jilbab sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cukuplah para shahabiyah di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan bagi kita dalam melaksanakan perintah Allah ta’ala, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha, “Sungguh wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan. Namun demi Allah, aku belum pernah menjumpai kaum wanita yang lebih utama, membenarkan kitabullah, dan lebih kuat keimanannya terhadap apa yang diturunkan Allah daripada wanita Anshar. Ketika Allah menurunkan surat An-Nuur (ayat 31), ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,’ para laki-laki Anshar pulang untuk membacakan ayat tersebut kapada istri, putri, saudarinya, serta para kerabatnya. Setelah mendengarnya, mereka pun langsung bangkit mengambil kain tirai rumahnya (lebar dan tebal), lalu menjadikannya kerudung; sebagai bentuk pembenaran dan keimanan terhadap hukum yang Allah ta’ala turunkan melalui kitab-Nya.”

Ya Allah, tutupilah aurat kami (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkanlah kami dari rasa takut.

Wa shallallaahu ‘ala nabiyyina Muhammadin walhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamin.

***

Artikel Buletin Zuhairah
Penulis: Ummu ‘Ubaidillah
Murajaah: Ustadz Adika Minaoki

Referensi:

  • Kriteria Busana Muslimah [terj. Jilbaab Mar-ah Muslimah fil Kitaab was Sunnah], Muhammad Nashiruddin al-Albani, Pustaka Imam Syafi‘i.
  • Menjaga Kehormatan Muslimah [terj. Hiraasah al-Fadhilah], Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid, Daar an-Naba’.
  • Artikel “Jilbab atau Khimar”, Aris Munandar, http://www.ustadzaris.com

Mungkin…

Mungkin...

Mungkin kita mampu tapi tak punya wadah untuk mengasah..
Mungkin kita pandai tapi tak lincah menjalani prosesnya…
Mungkin juga kita cerdas tapi terhambat oleh keinginan yang nafsi-nafsi..
Mungkin kita adalah pemegang kesuksesan hanya saja terhambat oleh segelintir kemalasan…

Ya, kita butuh ruang, butuh gerakan, butuh orang lain dan tentu saja butuh ketekunan…

Larangan Bagi Wanita Haid

Bismillah…
Dear muslimah, semoga kita senantiasa tetap berada dalam ketaatan kepada ALLAH Azza Wa Jalla, Bagi wanita, menstruasi atau haid merupakan siklus bulanan yang menandakan bahwa wanita tersebut telah aqil baligh, namun ada beberapa hal dalam ibadah khusus yang tidak boleh dilakukan oleh wanita haid. Bersumber dari Muslim.or.id, berikut akan dijelaskan beberapa larangannya, semoga bermanfaat saudariku.

Darah haid adalah darah normal pada wanita, berwarna hitam pekat dan berbau tidak enak, keluar dari tempat dan waktu tertentu. Darah ini penting sekali dipahami baik bagi wanita itu sendiri, termasuk pula bagi pria karena ia nantinya menjadi pendamping wanita atau memiliki sanak keluarga  yang mesti ia jelaskan tentang masalah ini. Yang muslim.or.id angkat kali ini mengenai masalah larangan bagi wanita haid. Yaitu hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan. Dan hal yang dilarang ini juga berlaku bagi wanita nifas. Juga ada sedikit penjelasan mengenai hal-hal yang sebenarnya bukan larangan.

Larangan pertama: Shalat

Para ulama sepakat bahwa diharamkan shalat bagi wanita haid dan nifas, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan mereka pun sepakat bahwa wanita haid tidak memiliki kewajiban shalat dan tidak perlu mengqodho’ atau menggantinya ketika ia suci.

Dari Abu Sai’d, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا

Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1951 dan Muslim no. 79)

Dari Mu’adzah, ia berkata bahwa ada seorang wanita yang berkata kepada ‘Aisyah,

أَتَجْزِى إِحْدَانَا صَلاَتَهَا إِذَا طَهُرَتْ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ كُنَّا نَحِيضُ مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلاَ يَأْمُرُنَا بِهِ . أَوْ قَالَتْ فَلاَ نَفْعَلُهُ

Apakah kami perlu mengqodho’ shalat kami ketika suci?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang Haruri? Dahulu kami mengalami haid di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, namun beliau tidak memerintahkan kami untuk mengqodho’nya. Atau ‘Aisyah berkata, “Kami pun tidak mengqodho’nya.” (HR. Bukhari no. 321)

Larangan kedua: Puasa

Dalam hadits Mu’adzah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.” (HR. Muslim no. 335) Berdasarkan kesepakatan para ulama pula, wanita yang dalam keadaan haid dan nifas tidak wajib puasa dan wajib mengqodho’ puasanya. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 28/ 20-21)

Larangan ketiga: Jima’ (Hubungan intim di kemaluan)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.” (Al Majmu’, 2: 359) Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ Al Fatawa, 21: 624)

Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haid.” (QS. Al Baqarah: 222). Imam Nawawi berkata, “Mahidh dalam ayat bisa bermakna darah haid, ada pula yang mengatakan waktu haid dan juga ada yang berkata tempat keluarnya haid yaitu kemaluan. … Dan menurut ulama Syafi’iyah, maksud mahidh adalah darah haid.” (Al Majmu’, 2: 343)

Dalam hadits disebutkan,

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-

Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al Muhamili dalam Al Majmu’ (2: 359) menyebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus dalam dosa besar.”

Hubungan seks yang dibolehkan dengan wanita haid adalah bercumbu selama tidak melakukan jima’ (senggama) di kemaluan. Dalam hadits disebutkan,

اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ

Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haid) selain jima’ (di kemaluan).” (HR. Muslim no. 302)

Dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaih disebutkan,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَمْلِكُ إِرْبَهُ

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”   (HR. Bukhari no. 302 dan Muslim no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haid atau selain kemaluannya.

Larangan keempat: Thawaf Keliling Ka’bah

Ketika ‘Aisyah haid saat haji, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,

فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

 “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”  (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

Larangan kelima: Menyentuh mushaf Al Qur’an

Orang yang berhadats (hadats besar atau hadats kecil) tidak boleh menyentuh mushaf seluruh atau sebagiannya. Inilah pendapat para ulama empat madzhab. Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala,

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)

Begitu pula sabda Nabi ‘alaihish sholaatu was salaam,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Bagaimana dengan membaca Al Qur’an? Para ulama empat madzhab sepakat bolehnya membaca Al Qur’an bagi orang yang berhadats baik hadats besar maupun kecil selama tidak menyentuhnya.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an menurut pendapat ulama yang paling kuat. Alasannya, karena tidak ada dalil yang melarang hal ini. Namun, seharusnya membaca Al Qur’an tersebut tidak sampai menyentuh mushaf Al Qur’an. Kalau memang mau menyentuh Al Qur’an, maka seharusnya dengan menggunakan pembatas seperti kain yang suci dan semacamnya (bisa juga dengan sarung tangan, pen). Demikian pula untuk menulis Al Qur’an di kertas ketika hajat (dibutuhkan), maka diperbolehkan dengan menggunakan pembatas seperti kain tadi.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10: 209-210).

Hal-Hal yang Masih Dibolehkan bagi Wanita Haid dan Nifas

  1. Membaca Al Qur’an tanpa menyentuhnya.
  2. Berdzikir.
  3. Bersujud ketika mendengar ayat sajadah karena sujud tilawah tidak dipersyaratkan thoharoh menurut pendapat paling kuat.
  4. Menghadiri shalat ‘ied.
  5. Masuk masjid karena tidak ada dalil tegas yang melarangnya.
  6. Melayani suami selama tidak melakukan jima’ (hubungan intim di kemaluan).
  7. Tidur bersama suami.

Menulis…

Bismillah…
Lama tidak menulis di blog ini, rasanya kemampuan menulis semakin kurang, benar kata penulis-penulis yang hebat itu, menulis harus terus dilatih dengan tekun tidak boleh lelah dan berhenti. Oh ya, saya ingin menghayati satu hal bahwa jika ingin menulis maka menulislah, jangan hiraukan apa yang orang lain akan katakan, jika mereka mengkritik alhamdulillah kritikan itu bisa menjadi sebuah batu loncatan untuk semakin mengasah kemampuan diri agar bisa belajar dari kekurangan yang ada dan berusaha untuk tidak mengulangnya, insya ALLAH. Ya, saya hanya menulis tapi bukan seorang penulis.

Gambar