Antara GOLPUT dan siapa yang harus kita pilih…

Goresan Ini hanya sebuah ungkapan hati seorang anak bangsa yang awam terhadap perpolitikan tapi prihatin atas mereka yang tidak menyalurkan aspirasinya di panggung demokrasi serta mereka yang rela menjual hak pilihnya demi kepentingan sesaat. Pemilihan umum sebentar lagi, tidak terasa waktu bergulir mundur menjemput pesta rakyat 5 tahunan ini, sebagai individu muslim, kita terkadang diperhadapkan oleh sebuah “pandangan yang rumit” bahwa secara realitas tidak ada sistem demokrasi yang berlaku dalam islam, akan tetapi kembali kita berbicara sebagai salah satu bagian dari masyarakat indonesia yang juga dinaungi oleh peraturan-peraturan negara dimana seseorang yang berumur 17+ dianggap sebagai insan dewasa yang sudah berhak menggunakan hak pilihnya, itu berarti mereka dipercaya sebagai orang-orang “terpilih” untuk menentukan mana yang mampu dan tidak mampu mengemban amanah negara.

Sebuah trend di kalangan sebagian khalayak untuk tidak menyalurkan aspirasinya pada pemilihan umum dengan dalih yang bermacam-macam, salah satunya ada yang bilang “milih gak milih, itu gak ngaruh sama kehidupan saya”, ketika ditanya lagi, kaum golput kadang-kadang hanya mengatakan “Itu hak saya, mau memilih atau tidak”. Iya, itu juga ada benarnya, tapi coba bayangkan jika kita adalah orang-orang yang mempunyai nalar tinggi dalam menilai sosok-sosok yang pantas dalam mengemban amanah rakyat akan tetapi diselimuti oleh keengganan menggunakan hak pilih, maka otomatis kita menghilangkan sekian persen peluang dari orang-orang tersebut untuk maju memikul beban rakyat. Lihatlah dan ambillah sisi positif dari adanya hajatan demokrasi ini, menjadi golput bukanlah “jalan” yang tepat.

Selain tidak memilih untuk GOLPUT, kita sebagai warga negara yang baik harus benar-benar menggunakan hak pilih dengan bijak dan tidak menjual suara dengan nominal lima puluh ribu atau seratus ribu rupiah yang akrab disapa sebagai Politik Uang, karena tidak dipungkiri lagi bahwa akan ada segelintir calon wakil rakyat yang akan melakukan hal tersebut untuk meraih kursi di parlemen, ada juga “serangan fajar” yang dipersenjatai oleh uang, sudah jelas, orang-orang seperti ini Sangat tidak layak untuk dipilih, baru mencalonkan diri saja sudah main uang, bagaimana kalau sudah terpilih?? Kemungkinan Korupsi pasti ada, serta yakin dan percaya mereka tidak akan memperhatikan hak-hak kita lagi dan bisa jadi cenderung mengabaikan kewajiban mereka sebagai wakil rakyat, karena mereka berpikir, “toh, suara kalian sudah saya beli”. Pikirkan dan berikan suara pada orang yang akan membayar hak pilih kita melalui visi misi yang jelas dan masuk akal, orang yang tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan untuk membangun daerah serta memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki dalam tatanan undang-undang yang berkaitan erat dengan kesejahteraan rakyat, sehingga kita, keluarga dan masyarakat turut menikmati hasil dari apa yang kita suarakan dalam jangka panjang bukan hanya sehari melalui lembaran-lembaran rupiah itu.

Sebagai bahan renungan di jelang detik-detik terakhir pesta demokrasi…Mari menjadi Pemilih-pemilih cerdas, patahkan kalimat klasikal yang menyatakan bahwa “Demokrasi hanya tergantung pada banyaknya jumlah kepala bukan isi kepala”. Mari menjadi Pemilih-pemilih bijak, yang juga akan merubah persepsi bahwa “Demokrasi sarat akan Perdagangan suara, jual beli hak pilih”. Sungguh masyarakat beradab adalah kita yang menggunakan akal dan nurani dalam bertindak.

 

(Makassar, 9 hari jelang 9 April….)

<photo id=”1″ />

Ketika Hari Itu Tak Ada Lagi dan Kita Sudah tidak “Disini” Lagi

Seharian ini saya habiskan di jalanan ibukota yang diwarnai hiruk pikuk kemacetan, menaiki angkot dari trayek satu ke trayek yang lain. Di bawah matahari yang terik, keringat dan debu pun kunikmati tanpa kehendak, pandangan di luar angkot hanyalah gedung-gedung tinggi, bangunan mewah, perkantoran bahkan sesekali mata menjejal pada lorong-lorong kumuh yang padat penduduk.

Entah kenapa saya hanya ingin berimajinasi bagaimana wajah kota ini dua puluh  tahun yang lalu, tiga tahun,  bahkan ketika orang tua saya masih belum terlahir, pastilah tidak seperti sekarang, mungkin jalan-jalan masih lengang, rumah-rumah belum sepadat saat ini, dan belum terlihat jelas perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin, pengemis masih kurang dan hampir tak ditemukan anak-anak mengais rejeki dari belas kasihan orang-orang di pinggir jalan, lingkungan masih begitu asri dengan tumbuhan peneduh di setiap jalan. Jika ada kesempatan di lain hari dan saya mengingat tentang tulisan ini, saya tidak perlu repot-repot lagi berkhayal tentang masa lalu setiap sudut kampung modern ini, cukup menanyakannya pada orang tua yang telah uzur dan masih tidak pikun dengan kenangan-kenangan yang ia lewati sebagai pribumi berpuluh-puluh tahun silam.

Pikiran saya kembali direcoki oleh hasrat untuk mengintip masa depan, bagaimana 20 atau 30 tahun kemudian? Mungkin, sulit lagi menemukan lahan kosong untuk pemukiman, mobil bukan lagi kendaraan mewah bagi sebagian orang, pengemis dan anak jalanan tak terhitung lagi jumlahnya ataukah kehidupan justru semakin makmur, tak ada lagi peminta-minta semua orang produktif dan memiliki pekerjaan yang layak untuk menyambung hidup, lingkungan kembali dihijaukan oleh pohon-pohon, harapan saya seperti sebuah siklus yang selalu kembali ke titik yang sama, jika awalnya kota ini adalah sebuah kota teduh bersinar maka akan kembali menjadi seperti julukannya di tahun-tahun mendatang. Gambaran kondisi-kondisi ini hanya sebuah tebak-tebakan yang tidak punya hadiah.

Kita tinggalkan membahas keadaan kota ini, karena kacamata saya pun masih terlalu buram untuk memandang, mengamati bahkan memahami hal-hal yang bersangkutan dengan perkotaan lagipula bukan bidang saya, anggap saja hanya opini seorang awwam.

Seharusnya saya pun berpikir, bahwa 20-30 tahun mendatang adalah waktu yang masih lama, apakah hari itu akan hadir? Ataukah sebentar lagi dunia akan berakhir?  Bagaimana jika hari itu tak ada lagi, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menuju perjalanan abadi yang tujuannya hanya sampai pada satu diantara dua “Kota” yang tertulis gamblang di dalam kitab suci-NYA serta yang tertutur keadaannya oleh lisan baginda Rasulullah.

Dua “kota”adalah  itu Syurga dan Neraka, kota yang tak ada tandingannya atas sebaik-baik ruang dan seburuk-buruk tempat berpijak di dunia. Jika di saat ini kita tidak menikmati keindahan sempurna dari setiap tempat yang kita kunjungi karena masih ada saja kekurangan disana-sini, maka di surga nantilah, hal-hal yang tak ada kurangnnya inshaa ALLAH akan kita temui. Apabila hari ini kita merasakan ketidaknyamanan berada di sebuah tempat, besar kemungkinan keadaan tersebut masih bisa ditolerir, karena di dunia ini, sungguh, kita tidak merasakan penderitaan sepenuhnya. Tapi di neraka nanti? Niscaya siksaan begitu sempurna. Semoga kita terselamatkan oleh panasnya api jahannam.

Kita percaya pada satu hal bahwa kita akan menuju ke tempat yang kekal abadi, kita pun harus menyadari, mau kemana? Dan apa yang telah kita persiapkan sebagai bekal untuk menuju kesana?

*Menuliskan catatan ini adalah proses saya dalam belajar dan Inshaa ALLAH saya akan terus belajar semampu saya, maka Maafkan, atas kerancuan bahasa dan isi jika sulit terpahami.

Teknologi, Mendewasakan Anak-anak Sebelum Waktunya

Banyak hal telah bergeser, dari sesuatu yang serba manual atau konvensional menjadi serba otomatis dengan kata lain “serba mudah”. Dalam hal ini untuk kegiatan tertentu, klik ini klik itu, sudah, beres. Begitupun dengan beragam produk modernisasi sebut saja “Teknologi Modern” yang menyentuh setiap kalangan dan usia, tidak terkecuali anak-anak.

Hampir di setiap rumah memiliki “Kotak ajaib” ini, anak-anak pun kerapkali bercengkrama dengannya, ia begitu terkenal, namanya Televisi, ia mungkin sudah menjelma menjadi benda yang penting dan harus ada di setiap tempat tinggal. Mari kembali ke masa lalu dimana Orang-orang yang terlahir di era 80-an dan 90-an mungkin lebih menikmati masa kanak-kanak karena disuguhi oleh begitu banyak tayangan khusus untuk seusia mereka, namun tidak terasa tahun-tahun pun berlalu meninggalkan jejak-jejak di masa itu. Hari ini, ketika menonton siaran TV, sulit sekali menemukan tayangan di layar kaca yang cocok untuk mereka misalnya tontonan pendidikan, tayangan drama/sinetron yang mendidik ataukah lagu-lagu yang memang tepat di telinga anak-anak, hampir semua berbicara tentang CINTA, cinta yang belum “pas” untuk mereka. Akibatnya “fatal”, hal-hal tersebut membuat para buah hati yang masih kecil ini menjadi dewasa sebelum waktunya.

Teknologi memang sudah semakin maju, permainan-permainan tradisional kerapkali terlupakan bahkan banyak yang tidak mengetahuinya karena tergerus oleh banyaknya permainan canggih, Play station misalnya. Kemudian, Coba kita perhatikan, tidak jarang balita sudah diajar pegang gadget, anak-anak SD alih-alih bermain game malah sudah banyak yang memiliki akun sosial media, sudah pintar browsing di internet. Dalam hal ini, seharusnya ada pengawasan dari orang tua karena tidak semuanya bisa memfilter siapa dan umur berapa yang sedang berselancar ria atau sekedar googling mencari bahan pelajaran dari sekolah, bisa jadi lebih dari itu, yaitu mengerjakan kegiatan di dunia maya yang belum pantas dilakukan oleh anak-anak *ah, miris.

Terlepas dari semua itu, kita tidak dituntut untuk membuang jauh-jauh TV yang sudah terlanjur terpajang di sudut rumah ataukah menghilangkan sesuatu yang berbau internet di sekitar kita, karena diterima atau tidak bahwasanya segala hal punya zaman, tapi bukan berarti segalanya harus mengikuti zaman, tinggal bagaimana caranya agar fasilitas-fasilitas tersebut menjadi manfaat bukan sebaliknya, mendatangkan mudharat.

Salah satu hal terpenting, harus ada landasan yang kuat untuk mengiringi kehidupan mereka agar nantinya menjadi insan-insan terbaik ketika telah mencapai usia emas dengan potensi dan kecerdasan yang maksimal. Salah satunya adalah dengan pendidikan agama sejak dini, sehingga, siapapun mereka, entah yang bertindak sebagai subjek maupun objek, tidak terkikis kepribadiannya oleh pesatnya perkembangan teknologi tapi terus tertata moral dan perilakunya. Jika hal ini diterapkan, diharapkan generasi penerus menjadi anak-anak yang benar-benar mendewasa sesuai porsi waktunya, tidak tumbuh seperti buah yang di karbit, masih mentah tapi dipaksa menjadi matang, bagaimana rasanya? Masam bukan?

 

Kejujuran di tempat umum

Suatu ketika saya berangkat menuju kampus melewati jalan yang sama dengan jalur angkot seperti biasanya, saya langsung menuju di bagian ujung sisi kiri tempat duduk yang berada di bagian pojok angkot, sepanjang perjalanan saya hanya sibuk memandang kendaraan yang lalu-lalang di jalan hingga tak terasa saya sudah tiba tepat di depan gerbang kampus tempat saya menuntut ilmu. Saya lalu turun dan mengambil uang di kantong kecil tas selempang yang selalu menjadi teman saya saat berpergian ya termasuk ke kampus, kemudian membayar tiga ribu rupiah pada saat itu (sekarang sudah empat ribu rupiah), lalu segera memasuki gerbang kampus menuju ruangan jurusan.

Selang beberapa lama teman-teman saya satu per satu mulai bermunculan, saat itu mereka sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas akhir atau lebih akrabnya disebut skripsi dan saya sibuk dengan urusan di luar itu. Waktu itu saya sekedar datang ke kampus untuk mencari informasi dan sekedar hanya ingin bertemu dengan teman-teman saya, meskipun saya sibuk dengan urusan di luar kampus, saya tetap harus mengetahui apa saja yang terjadi di kampus, jangan sampai saya ketinggalan berita *eh.

Tidak terasa ternyata sudah waktunya makan siang, teman-teman mulai mengajak makan ke kantin ada pula yang mengajak makan di luar kampus dan saya memilih untuk makan di warung depan kampus, sembari berjalan menuju tempat makan saat itu saya memeriksa tas untuk mengambil dompet, setelah beberapa kali saya periksa timbullah kecurigaan bahwa dompet itu terjatuh karena memang kancing tas saya terbuka saat itu. Rasa cemas mulai menyelimuti dan saya pun benar-benar panik, kemudian sebuah rekam jejak muncul di memori saya, ah, tadi sewaktu saya duduk di pojokan angkot itu saya sempat membuka tas untuk mengambil sesuatu, barangkali domptet itu terjatuh di angkot.

Saya memberi tahu kepada teman-teman bahwa dompet saya hilang, “bagaimana bisa hilang?”, “kapan?”, “dimana?”, berbagai macam pertanyaan mulai mereka lontarkan dan saya hanya tertuju pada satu tempat, ya, angkot ditumpangi tadi, saya memang pelupa tapi ada kondisi dimana memungkinkan saya untuk bisa benar-benar mengingat kejadian yang telah saya alami sebelumnya, dompet saya tadi pasti terjatuh di angkot dan sekarang telah hilang bersama dengan KTP, SiM, kartu ATM dan kartu lainnya serta surat-surat penting di dalamnya, angkot itu kendaraan umum bermacam-macam orang pasti sudah menumpanginya semenjak saya turun tadi pagi, kemudian saya beriniasiatif untuk menunggu angkot itu lewat dengan mengingat-ingat gambar besar yang terpampang di bagian kaca belakangnya.

Saya bergegas menuju ke seberang jalan, berharap angkot yang saya tumpangi tadi lewat lagi, tidak peduli seberapa lama waktunya saya menunggu, alhamdulillah setelah menanti dengan perasaan was-was akhirnya angkot tadi berhenti mengambil penumpang termasuk saya, saya pun naik ke angkot tersebut, dengan berani dan tetap berusaha menjaga kesopanan saya bertanya mengenai dompet tersebut kepada sopirnya “Maaf pak, tadi pagi saya kehilangan dompet dan mungkin dompet itu jatuh di bawah jok kursi mobil bapak”. Bapak itu pun menjawab “Oh, iya, saya menemukan sebuah dompet hitam putih tadi pagi, saya tidak tahu bagaimana menghubungi pemiliknya, saya juga khawatir kalau si pemilik sudah panik karena dompet tersebut banyak kartunya, jadi, saya simpan saja dompet itu di rumah saya”. Dengan perasaan yang penuh syukur saya pun meminta tolong kepada bapak tadi untuk ikut ke rumahnya mengambil dompet tersebut dengan senang hati bapak itu mengiyakan, saya pun ikut dengan berkeliling sampai ke pasar sentral lalu balik lagi dan menuju ke rumah bapak tadi, anaknya menyerahkan dompet itu tanpa kekurangan satu rupiah pun dan kartu-kartunya masih utuh jumlahnya, Alhamdulillah.

Bapak tadi memberikan saya satu contoh yang besar bahwa di tengah banyaknya orang-orang yang acuh atas kejujuran, masih ada segelintir orang baik yang tidak sudi mengambil hak orang lain sekalipun ia bisa mengambil keuntungan dari hal tersebut, ya, kejadian ini mengubah persepsi negatif saya bahwa di tempat umum kalau barang kita hilang, ya sudah, pasti lenyap selamanya. Kalau itu masih hak kita, Allah pasti akan mengembalikannya kepada kita, ini pun menjadi peringatan yang besar bagi saya agar lebih berhati-hati dan selalu lebih detail memeriksa barang-barang saat bepergian, jauh atau dekat juga yang paling penting mencari cara untuk mengurangi sifat pelupa, kalau pelupa terus bisa-bisa kelimpungan juga ya, sudah terbukti dari kejadian yang baru saja saya alami.

Sosok yang Baru

Akhir-akhir ini entah kenapa emosiku kadang meluap-meluap, ya Rabbi padahal aku tahu bahwa aku harus menjadi orang yang kuat, kuat melawan marah ataukah bersikap ramah meski sedang dalam amarah. Di tengah penulisan skripsiku yang belum juga kelar, aku mendapat begitu banyak cobaan, entah itu adalah cobaan ataukah peringatan. Mungkin DIA ingin menegurku ketika terlalu banyak waktu yang kuhabiskan sia-sia tanpa mengingat bahwa aku senantiasa dalam pengawasannya.

Aku telah tenggelam dalam dosa-dosa, lisan, mata, pendengaran bahkan kata hatiku dipenuhi oleh nista yang mengamuk serta mencambuk diriku sendiri. Hari ini aku mulai mencoba kembali, mengulang untuk kesekian kalinya memperbaiki diri dari banyak kesalahan, semoga DIA tak pernah bosan mendengar lirih permohonan ampunku. Di hari Jumat yang begitu berkah, sekali lagi aku ingin menjadi seorang insan yang lebih baik tanpa menghilangkan apa adanya diriku. Merenung, berdoa bahkan menangis. Aku khawatir hatiku membatu karena terus-menerus mengoleksi berbagai macam kekhilafan.

Esok, aku harus menjadi orang yang lebih tangguh, melawan kemalasan, memaksa diri untuk tidak terbiasa menunda-nunda dan sesegera mungkin menyelesaikan tugas akhir kuliah, berharap ada kado kecil untuk orang tua, penantian itu sudah cukup lama untuk melihat anak mereka menjadi sarjana, tak lupa untuk orang-orang terkasih, aku tidak ingin do’a dan pengorbanan mereka sia-sia, sepercik kasih sayang mereka begitu menyejukkanku.

Seharusnya kusadari sejak dulu bahwa aku harus menjaga kesehatan, makan, minum dan istirahat yang teratur, sebenarnya selalu ada penasehat dalam hal-hal semacam itu. Ada yang tak kalah pentingnya yaitu kebutuhan ruhani harus terpenuhi haknya dengan meningkatkan kualitas ibadah serta menata hati dengan cantik. Semoga diri ini pun menjadi insan yang dihiasi oleh anggunnya kesabaran serta rasa syukur terus hadir menuntun jiwa hingga menjadi sosok yang qanaah, berupaya menjaga keikhlasan dan ketaatan. Dan, Bismillah aku kini adalah sosok yang baru.

Yang Tersisa di Januari

Awal januari, kita mungkin berlomba-lomba mencari selembar kertas untuk menuliskan resolusi agar tahun ini lebih baik dari tahun kemarin.. catat.. catat… catat!!! Harapan-harapan baru menyeruak mencari jalannya untuk diwujudkan dan harapan lama yang tersisa sekali lagi di pangku di atas do’a-do’a. Namun, kita terkadang merasa lelah ketika beranjak tidur saat pagi hampir tiba karena menikmati euforia penyambutannya, ya, mungkin begitu bagi kebanyakan orang, tapi juga ada yang menganggapnya biasa-biasa saja dan lebih memilih menikmati tidur di awal waktu, tergantung pilihan, bukankah hidup adalah sebuah pilihan? Atas besar dan kecilnya sebuah tindakan atau bahkan saat tidak memilih sama sekali.

Kemudian bagaimana catatan yang tertulis tadi? Apakah hanya menjadi penghias dinding kamar ataukah tergeletak begitu saja karena kita abaikan, tanpa mengingat betapa bersemangatnya kita menulisnya semalam sebelumnya. Menulis satu, dua, tiga, empat atau bahkan berpuluh-puluh resolusi.

Sebenarnya, Satu Januari, adalah tanggal atau hari yang sama dengan tanggal atau hari lainnya, terdapat pergantian siang dan malam, berlalunya waktu selama 24 jam, mungkin yang berbeda adalah perilaku kita, yang pada akhirnya memberikan kita pemahaman bahwa resolusi tidak harus dibuat di awal januari tapi bisa jadi setiap saat ketika kita sepenuhnya mengerti bahwa ada hal-hal yang mesti diperbaiki dalam hidup kita.

Resolusi yang kita buat di awal tahun itu sah-sah saja, tidak ada salahnya. Akan tetapi, jauh lebih baik jika kita menyadari bahwa apa yang kita resolusikan senantiasa kita ingat serta mengusahakan agar resolusi tersebut benar-benar bisa terwujud, alasan kita membuat resolusi adalah agar kita menjadi lebih baik, tapi akan menjadi hal yang menyusahkan diri sendiri jika kita membuatnya karena berpatokan pada pergantian tahunnya atau bisa lebih parah dari itu, hanya karena ikut-ikutan.

Mungkin, banyak hal yang kita dapatkan di januari, kita mengukir sejarah dan menciptakan kenangan pada setiap detik yang terlewati, satu hal yang juga selalu hadir di januari, hujan yang selalu betah menemani perjalanannya bahkan ketika waktunya hampir habis untuk kita nikmati, ataukah momen kegembiraan bahkan kesedihan yang terasa mendalam. Namun yang terpenting dari semua itu adalah bahwa ada yang tersisa dan tak pernah habis meski tergerus oleh waktu, terus ada meski januari telah pergi, ya, sekumpulan Harapan dan Mimpi-mimpi.

 

(Makassar, 10 Hari di Akhir Januari)

 

(NB: Catatan ini dibuat bukan sebagai bentuk pensakralan atas bulan Januari)

 

Menulis untuk Menebar Kebaikan dan Manfaat

Awalnya sejak kelas enam SD, saat hidup saya benar-benar seperti jembatan putus, sulit menyeberang dari satu jalan ke jalan kehidupan yang lain karena kehilangan seorang ibu dengan panggilan sayang “Mama”. Sejak saat itu saya suka menulis diary, ketika rindu dengan mama ataukah menghadapi persoalan, suka duka atau bahkan sekedar iseng.

Tulisan saya yang berantakan tidak membuat saya berhenti menulis atas berbagai kejadian yang terjadi di hidup saya, sampai kebiasaan itu terbawa hingga kuliah, tetapi saya tidak benar-benar menggelutinya hanya sekedar hobi tanpa tahu bagaimana penulisan diksi yang benar ataukah pengolahan kalimat yang baik, yang saya tahu bahwa diri saya menulis seadanya semampu saya.

Sampai suatu waktu saya membaca sebuah pesan bahwa sebuah tulisan adalah sebuah ungkapan serta wadah untuk menyampaikan gagasan atau pendapat atas hal-hal yang mungkin tidak bisa tersampaikan secara langsung. Tulisan adalah cermin dari pikiran seseorang, melalui tulisan kita bisa berbagi dengan orang lain, tentu saja dengan tanggung jawab yang akan kita tanggung atas apa yang kita tulis.

Ketika memulai menulis sebuah kalimat dengan tujuan agar tersampaikan kepada orang lain dan tentu saja bagi yang sudi meluangkan waktu untuk membacanya rasanya seperti naik ke tempat tinggi melawan gravitasi bumi dengan tertatih-tatih, memikirkan kata apalagi yang cocok untuk menyambung kata sebelumnya dan bagian terpenting adalah bagaimana orang lain bisa memahami isi tulisan kita dengan baik walaupun dengan persepsi beragam yang niscaya akan muncul di setiap benak individu yang membacanya.

Usia saya tidak belia lagi, tapi saya selalu yakin bahwa proses belajar dan bermanfaat untuk orang lain tidak akan pernah terlambat selama saya mau memulai dan terus melakukannya, bermanfaat bagi orang lain pun begitu banyak caranya. Saya bukanlah orang yang pandai, dalam berbagai hal memiliki keterbatasan, tapi saya akan mencoba agar bisa menulis sebagai simpanan kenangan abadi untuk orang lain terkhusus untuk diri saya sendiri.

Bekas-bekas jemari tangan saya nantinya, meski sederhana dan biasa-biasa saja, saya berharap ada manfaatnya untuk orang lain, minimal ketika orang lain membacanya ada seberkas senyum di bibir mereka. Ya, saya hanya ingin bermanfaat untuk orang lain. Inilah salah satu harapan saya “menulis untuk menebar kebaikan dan manfaat”, bagaimana dengan kamu? 🙂